Contact us!

Checklist: Apa Saja Sertifikasi yang Harus Dimiliki Kemasan Makanan?
Minggu, 1 Maret 2026

Pendahuluan
Kemasan makanan bukan hanya pelindung produk, tetapi juga penjamin keamanan dan kepercayaan konsumen. Dalam industri pangan, terutama yang berhubungan langsung dengan bahan makanan, kemasan food grade wajib memiliki sertifikasi resmi sebagai bukti bahwa produk tersebut aman digunakan, tidak mengandung bahan berbahaya, dan sesuai dengan regulasi nasional maupun internasional.
Namun, banyak pelaku UMKM masih belum mengetahui sertifikasi apa saja yang harus dimiliki kemasan makanan agar lolos audit dan dipercaya oleh marketplace besar seperti Tokopedia, Shopee, atau bahkan untuk ekspor.
Artikel ini akan menjadi checklist lengkap sertifikasi kemasan makanan yang perlu kamu pahami dan siapkan — mulai dari SNI hingga uji migrasi bahan.
1. Sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia)
Sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) merupakan standar utama yang harus dimiliki oleh produsen kemasan makanan di Indonesia. Diterbitkan oleh BSN (Badan Standardisasi Nasional), SNI memastikan bahwa bahan kemasan memenuhi kriteria aman, higienis, dan ramah lingkungan.
Kenapa penting?
Melindungi konsumen dari bahan kimia berbahaya seperti BPA, ftalat, atau logam berat.
Menjamin kualitas dan ketahanan kemasan terhadap panas, minyak, dan kelembapan.
Menjadi syarat legalitas bagi produsen untuk memasarkan produk di Indonesia.
Contoh kode SNI terkait kemasan makanan:
SNI 06-2580-1992 → Plastik polietilen untuk kemasan makanan
SNI ISO 22000:2018 → Sistem manajemen keamanan pangan
SNI 2973:2011 → Kertas dan karton untuk pembungkus makanan
✅ Checklist:
Pastikan bahan baku dan tinta cetak telah diuji laboratorium.
Simpan dokumen hasil uji dan sertifikat resmi BSN.
Cantumkan logo SNI di kemasan produk.
2. Sertifikasi Food Grade & Uji Migrasi Bahan
Istilah food grade sering digunakan, tapi tidak semua pelaku usaha tahu bahwa label ini harus dibuktikan melalui uji migrasi bahan.
Apa itu uji migrasi bahan?
Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada zat kimia dari kemasan yang berpindah (bermigrasi) ke makanan, terutama saat terpapar panas, minyak, atau kelembapan tinggi.
Misalnya, kertas food packaging harus lolos uji:
Migrasi logam berat (Pb, Cd, Cr, Hg)
Migrasi total bahan kimia ke makanan
Ketahanan terhadap minyak & air panas
Jika hasilnya berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh BPOM dan BSN, barulah kemasan dapat dikategorikan sebagai food contact safe.
✅ Checklist:
Lakukan uji migrasi di laboratorium terakreditasi (misalnya Sucofindo atau SGS).
Simpan hasil uji resmi untuk keperluan audit.
Hindari penggunaan bahan daur ulang tanpa sertifikat keamanan.
3. Sertifikasi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)
Banyak yang salah paham bahwa BPOM hanya mengatur makanan dan obat — padahal, kemasan makanan juga diawasi. BPOM berperan memastikan bahwa bahan kemasan tidak mengandung zat yang bisa membahayakan kesehatan konsumen.
BPOM mengeluarkan pedoman tentang:
Jenis bahan yang boleh digunakan untuk kontak makanan (plastik, kertas, logam, kaca).
Kandungan bahan aditif kemasan seperti pewarna, pelunak, atau pelapis.
Ketentuan pelabelan agar informasi pada kemasan tidak menyesatkan.
✅ Checklist:
Pastikan produkmu tidak mengandung BPA, timbal, atau senyawa berbahaya.
Gunakan label “Food Grade” hanya jika memiliki bukti uji dari BPOM atau laboratorium terakreditasi.
Simpan hasil pengujian dan izin edar jika kamu produsen makanan dengan kemasan sendiri.
4. Sertifikasi ISO untuk Sistem Manajemen Keamanan Pangan
Sertifikasi ISO 22000 adalah standar internasional yang mengatur sistem manajemen keamanan pangan di seluruh rantai produksi — termasuk pengemasan.
Standar ini menilai:
Proses produksi kemasan
Kebersihan area kerja
Pengendalian bahan baku
Kualitas akhir produk
Jika kamu adalah produsen kemasan makanan, memiliki sertifikasi ISO 22000 akan meningkatkan kredibilitas perusahaan dan mempermudah kerjasama dengan brand besar yang menerapkan standar global.
Selain ISO 22000, ada juga:
ISO 9001 (Quality Management System)
ISO 14001 (Environmental Management System)
✅ Checklist:
Terapkan SOP kebersihan dan traceability bahan baku.
Audit internal secara rutin untuk menjaga konsistensi mutu.
Gunakan bahan yang telah lolos uji SNI dan BPOM.
5. Sertifikasi Ramah Lingkungan (Eco Label / FSC)
Tren industri makanan kini bergerak ke arah sustainability. Konsumen lebih memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan, terutama dari bahan kertas atau biodegradable.
Untuk bahan kemasan berbasis kertas, sertifikasi penting yang harus dimiliki adalah:
FSC (Forest Stewardship Council) → menjamin kertas berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan.
PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification) → alternatif sertifikasi internasional untuk produk berbasis kayu dan serat.
✅ Checklist:
Gunakan kertas bersertifikat FSC/PEFC untuk kemasan makanan.
Hindari penggunaan tinta berbasis pelarut kimia keras.
Cantumkan logo FSC atau “eco-friendly packaging” di label produk.
6. Sertifikasi Halal
Untuk pasar Indonesia, sertifikasi halal juga menjadi nilai penting, terutama bila kemasan digunakan untuk makanan siap saji atau bakery.
Sertifikat halal dari BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) memastikan bahan kemasan — seperti perekat, tinta, dan pelapis — tidak berasal dari bahan haram atau najis.
✅ Checklist:
Pastikan bahan pewarna, tinta, dan lem bebas dari bahan turunan hewani.
Ajukan sertifikasi halal jika kamu memproduksi kemasan dalam jumlah besar untuk industri makanan.
Gunakan label “Halal Certified” hanya setelah verifikasi resmi dari BPJPH.
Kesimpulan: Checklist Sertifikasi Kemasan Makanan
Jenis Sertifikasi | Fungsi Utama | Diterbitkan Oleh |
SNI | Standar keamanan dan mutu kemasan | BSN |
Food Grade / Uji Migrasi | Menjamin kemasan aman kontak makanan | Laboratorium terakreditasi |
BPOM | Mengatur bahan dan aditif kemasan | Badan POM RI |
ISO 22000 / 9001 | Sistem manajemen keamanan pangan | ISO |
FSC / Eco Label | Bahan ramah lingkungan & berkelanjutan | FSC / PEFC |
Halal | Kepastian bahan kemasan tidak najis / haram | BPJPH |
✅ Checklist akhir sebelum produksi:
Semua bahan telah lolos uji migrasi dan SNI
Bahan tinta dan lem bersertifikat halal
Dokumen hasil uji dan izin edar disimpan
Logo sertifikasi tercetak di kemasan
Proses produksi sesuai SOP kebersihan
Kesimpulan Akhir
Membangun kepercayaan konsumen dimulai dari kemasan yang aman dan bersertifikat. Dengan memiliki SNI, BPOM, ISO, dan sertifikat food grade, kamu tidak hanya memenuhi regulasi, tapi juga membangun brand trust yang kuat di mata pelanggan dan mitra bisnis.
“Kemasan bukan hanya pembungkus — tapi juga bukti tanggung jawab produsen terhadap keamanan dan kesehatan konsumennya.”
Temukan berbagai pilihan kemasan food grade bersertifikat di Sinergi Food Packaging — aman, higienis, dan ramah lingkungan 🌿
Tags

Sinergi Global Industri adalah perusahaan Indonesia yang berfokus pada kemasan makanan. Sinergi Global Industri didirikan pada tahun 2011 dan kami melayani lebih dari 300 pelanggan, perusahaan lokal dan multinasional, dengan produk dan layanan terbaik.
ALAMAT & KONTAK KAMI
MTH Square Jl. MT Haryono Kav. 10 3rd Floor Room 303 Jakarta, Indonesia
021 22115626